
Harnas.id, JAKARTA — Ketua Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI, Dr. Ir. H. Sodik Mudjahid, M.Sc., menilai momentum 10 Muharram perlu dimaknai lebih jauh daripada sekadar agenda seremonial atau penyaluran bantuan sesaat. Menurut dia, peringatan Lebaran Yatim harus diarahkan menjadi titik dorong agar para mustahik, termasuk anak yatim dan penyandang disabilitas, dapat tumbuh lebih mandiri, berdaya, dan punya ruang berkembang secara nyata.
Pandangan itu disampaikan Sodik saat menghadiri kegiatan Lebaran Yatim dan Disabilitas yang digelar Kementerian Agama (Kemenag) RI pada Kamis (25/6/2026). Dalam forum tersebut, ia menegaskan dukungan BAZNAS terhadap pendekatan yang tidak lagi menempatkan bantuan sosial sebatas santunan, melainkan sebagai instrumen pemberdayaan berbasis potensi.
Menurut Sodik, tema kegiatan tahun ini, “Festival Pesan Inklusif dari Jiwa Anak untuk Negeri”, menangkap kebutuhan penting dalam pengelolaan bantuan sosial di Indonesia. Ia memandang keadilan sosial bagi anak yatim dan penyandang disabilitas tidak cukup diwujudkan hanya melalui bantuan materi, tetapi juga lewat pembukaan ruang agar mereka bisa menyampaikan gagasan, menunjukkan kapasitas, dan terlibat dalam menentukan masa depan mereka sendiri.
“Tema festival tahun ini sangat tepat karena keadilan sosial bagi anak yatim dan disabilitas sejati tercapai saat kita memberikan mereka ruang untuk bersuara, berkarya, dan memimpin masa depan mereka sendiri,” jelas Sodik dalam keterangan tertulis, Kamis (25/6/2026).
Pernyataan itu sekaligus menandai arah yang ingin ditegaskan BAZNAS dalam pengelolaan zakat dan wakaf. Sodik mengatakan, lembaganya ingin menggeser cara pandang lama yang kerap menempatkan penerima manfaat sebagai pihak pasif. Dalam pendekatan baru yang sedang didorong, mustahik justru diposisikan sebagai subjek aktif yang memiliki potensi, kapasitas, dan peluang untuk tumbuh mandiri jika ekosistem dukungannya dibangun dengan tepat.
Karena itu, BAZNAS, kata dia, terus mengupayakan agar dana umat tidak hanya berhenti pada pola bantuan konsumtif jangka pendek. Penyaluran zakat, infak, dan wakaf diarahkan lebih kuat ke program-program produktif yang memberi dampak berkelanjutan, terutama bagi anak-anak yatim dan kelompok rentan lainnya.
Ia menyebut beberapa bentuk program yang terus dioptimalkan antara lain beasiswa pendidikan kreatif dan pelatihan keterampilan yang adaptif terhadap kebutuhan zaman. Menurut Sodik, model intervensi seperti ini penting agar bantuan tidak hanya menyelesaikan kebutuhan hari ini, tetapi juga membuka peluang hidup yang lebih baik di masa depan.
“Kami berharap kolaborasi ‘Peaceful Muharram’ ini menjadi titik balik bagi pengelolaan zakat nasional yang berfokus pada pemuliaan martabat kemanusiaan dan penguatan potensi luar biasa yang dimiliki anak-anak kita,” ujarnya.
Pesan yang dibawa BAZNAS dalam kegiatan ini memperlihatkan adanya pergeseran fokus dari charity menuju pemberdayaan. Bagi lembaga pengelola zakat, momentum keagamaan seperti 10 Muharram dinilai bisa menjadi ruang penting untuk menata ulang orientasi program, dari sekadar menyalurkan bantuan menjadi membangun jalan keluar yang lebih berjangka bagi kelompok rentan.
Sementara itu, Menteri Agama RI, Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A., juga menekankan bahwa 10 Muharram perlu dijadikan momentum bersama untuk membebaskan anak-anak yatim dan kelompok difabel dari berbagai kesulitan hidup. Ia mengajak seluruh lembaga pengelola zakat dan wakaf untuk menjadikan peringatan tersebut sebagai tradisi baru yang lebih produktif, bukan sekadar rutinitas tahunan.
Menurut Nasaruddin, semangat 10 Muharram harus diterjemahkan ke dalam tindakan yang konkret dan berdampak langsung. Ia menilai peringatan hari besar keagamaan akan lebih bermakna jika mampu menghadirkan solusi atas persoalan sosial yang dihadapi kelompok yang paling membutuhkan perhatian.
“Semoga ini menjadi tradisi baru buat kita memperingati 10 Muharram. Kalau di tempat lain memperingatinya macam-macam, maka kita di sini memperingatinya dengan cara-cara yang sangat produktif, membebaskan anak-anak yatim itu dari berbagai macam kesulitan hidup,” kata Nasaruddin.
Dalam kesempatan yang sama, Menag juga menyoroti pentingnya memperluas pemahaman tentang siapa yang dimaksud sebagai anak yatim dalam konteks kepedulian sosial. Menurut dia, perhatian dan bantuan tidak semestinya berhenti pada definisi sempit anak yang kehilangan ayah, tetapi juga perlu menjangkau anak-anak telantar dan mereka yang hidup dalam kondisi membutuhkan pertolongan.
Pandangan itu menjadi penting karena realitas kerentanan anak di Indonesia tidak selalu hadir dalam bentuk yang sama. Ada anak yang kehilangan figur orang tua, ada pula yang secara sosial dan ekonomi hidup tanpa perlindungan yang cukup. Dalam konteks itulah, ia menilai negara, lembaga keagamaan, dan pengelola dana sosial perlu memperluas cakrawala intervensi agar bantuan benar-benar menyentuh kelompok yang paling rentan.
Acara Lebaran Yatim dan Disabilitas yang digelar Kemenag RI kali ini juga berlangsung dalam skala cukup besar. Kegiatan tersebut diikuti sekitar 300 hingga 400 peserta secara tatap muka, yang terdiri atas anak yatim, penyandang disabilitas, perwakilan lembaga zakat dan wakaf, serta masyarakat umum.
Tak hanya itu, pelaksanaan acara juga terhubung secara virtual melalui Zoom dengan jajaran Kantor Wilayah Kementerian Agama di 34 provinsi. Keterlibatan juga datang dari Kemenag Kabupaten/Kota di 514 titik, BAZNAS, Badan Wakaf Indonesia (BWI), Lembaga Amil Zakat (LAZ), Nazhir Wakaf Produktif, serta Lembaga Keuangan Syariah Penerima Wakaf Uang (LKS PWU) dari berbagai daerah di Indonesia.
Skala partisipasi itu menunjukkan bahwa agenda Lebaran Yatim tak lagi dibaca semata sebagai kegiatan simbolik di satu titik acara, melainkan mulai diarahkan menjadi gerakan bersama lintas lembaga. Bagi pemerintah dan pengelola zakat, tantangan berikutnya adalah memastikan semangat inklusif yang digaungkan dalam forum-forum seperti ini benar-benar diterjemahkan menjadi program yang terukur, berkelanjutan, dan menjangkau anak-anak yang selama ini berada di pinggir perhatian.
Di titik itu, pesan yang mengemuka dari acara ini cukup jelas: bantuan untuk anak yatim dan penyandang disabilitas tidak boleh berhenti pada rasa iba. Yang lebih mendesak adalah memastikan mereka punya akses untuk tumbuh, belajar, berkarya, dan berdiri lebih kuat sebagai bagian dari masa depan bangsa.
Editor: IJS










