
Harnas.id, LUMAJANG – Upaya membangun kemandirian ekonomi masyarakat pascaerupsi Gunung Semeru terus dilakukan melalui pendekatan kolaboratif yang melibatkan berbagai pihak. Semangat tersebut mengemuka dalam kegiatan Workshop & Community Service bertajuk Building a Sustainable Economy: Integrating Policy, Knowledge, and Community Action yang digelar di kawasan Hunian Tetap (Huntap) Sumbermujur, Kabupaten Lumajang, Kamis (9/7/2026).

Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian International Conference on Economics, Management, Accounting and Innovation (ICEMAI) 2026 yang mempertemukan unsur akademisi, pemerintah, pelaku usaha, komunitas, hingga mahasiswa. Tujuannya bukan sekadar berdiskusi, tetapi merumuskan langkah konkret untuk memperkuat ekonomi lokal berbasis potensi masyarakat.
Workshop diawali dengan talkshow dan simposium yang dimoderatori Dr. Retno. Sejumlah narasumber hadir memberikan pandangan dan pengalaman, mulai dari kalangan akademisi, pemerintah daerah, komunitas hingga lembaga keuangan.
Narasumber yang hadir dalam kegiatan tersebut antara lain:
• Dr. Moh. Hudi Setyo Bakti, S.E., M.M.
• Ishariyanto
• Yayuk Sri Rahayu, S.Pd.
• Mohammad Ridha, S.Sos., M.Si.
• Prof. Dr. Zikri Muhammad
• Perwakilan Bank Indonesia
Dalam pemaparannya, Moh. Hudi Setyo Bakti menegaskan bahwa pemberdayaan masyarakat tidak dapat diselesaikan hanya melalui pelatihan jangka pendek. Menurutnya, pendampingan berkelanjutan menjadi faktor utama agar usaha masyarakat mampu berkembang dan bertahan dalam jangka panjang.
“Semangat membangun harus diwujudkan melalui pendampingan yang berkesinambungan. Pelaku usaha perlu memiliki komitmen agar mampu menghasilkan produk yang berdaya saing serta mengembangkan berbagai model pemasaran sehingga usaha mereka dapat terus tumbuh,” ujarnya.
Ia menilai keberadaan Pasar Komunitas Huntap menjadi salah satu instrumen penting untuk menciptakan ekosistem ekonomi yang mampu menopang kehidupan masyarakat secara mandiri. Kehadiran pasar tersebut dinilai dapat menjadi ruang bertemunya produsen lokal dengan konsumen tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pasar luar daerah.
Mini Museum dan Agrowisata Masuk Agenda Pengembangan
Selain membahas penguatan ekonomi masyarakat, forum tersebut juga memetakan sejumlah potensi pengembangan kawasan Huntap Sumbermujur ke depan. Kawasan yang sebelumnya dibangun sebagai tempat relokasi warga terdampak erupsi kini mulai diarahkan menjadi pusat edukasi sekaligus aktivitas ekonomi baru.
Moderator kegiatan, Dr. Retno, menjelaskan bahwa salah satu program yang sedang dikembangkan adalah pembangunan mini museum yang mendokumentasikan sejarah erupsi Gunung Semeru melalui benda-benda yang berhasil diselamatkan warga.
Menurutnya, museum tersebut tidak hanya berfungsi sebagai ruang penyimpanan sejarah, tetapi juga menjadi sarana edukasi kebencanaan bagi masyarakat dan wisatawan.
Selain itu, kawasan Huntap juga diproyeksikan berkembang sebagai destinasi agrowisata berbasis pertanian. Berbagai komoditas seperti sayuran dan tanaman bunga dipersiapkan sebagai daya tarik sekaligus sumber pendapatan baru bagi warga.
Pengembangan tersebut nantinya akan didukung pemanfaatan platform digital agar informasi mengenai potensi kawasan dapat diakses lebih luas oleh masyarakat.
Dalam kesempatan yang sama, peserta juga diperkenalkan pada konsep sistem peringatan dini atau early warning system yang dikembangkan oleh mahasiswa. Inovasi tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat memperoleh informasi lebih cepat terkait potensi aktivitas Gunung Semeru.
Pasar Komunitas Berawal dari Kegelisahan Warga
Ketua Komunitas Huntap Sumbermujur, Ishariyanto, menceritakan bahwa lahirnya Pasar Komunitas “Keluarga Baruku” berawal dari kondisi ekonomi warga yang belum sepenuhnya pulih setelah relokasi.
Menurutnya, banyak warga yang sebelumnya bekerja sebagai penambang pasir merasa kesulitan mendapatkan penghasilan setelah pindah ke kawasan hunian tetap.
“Kalau ekonomi tidak berjalan, masyarakat akan kesulitan bertahan hidup. Dari situ muncul tekad untuk membangun pasar komunitas agar pelaku UMKM memiliki ruang usaha dan warga bisa memperoleh penghasilan,” katanya.
Ia menjelaskan, pasar komunitas dibangun bukan sekadar untuk meramaikan kegiatan tertentu. Lebih dari itu, pasar tersebut diharapkan menjadi pusat aktivitas ekonomi yang hidup setiap hari dan mampu menggerakkan usaha masyarakat secara berkelanjutan.
Desa Sumbermujur Siapkan Sentra Pemasaran Produk Lokal
Kepala Desa Sumbermujur, Yayuk Sri Rahayu, menyebut kawasan Huntap memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi pusat ekonomi baru berbasis masyarakat.
Menurutnya, pengembangan kawasan tidak boleh hanya berorientasi pada sektor wisata, tetapi juga harus mampu memperkuat pemasaran hasil pertanian dan produk UMKM warga.
“Sayuran hasil panen warga sangat melimpah. Dengan adanya pasar komunitas, masyarakat tidak harus selalu menjual hasil bumi ke kota karena sudah memiliki pusat pemasaran sendiri di Huntap,” ujarnya.
Keberadaan pasar komunitas dinilai dapat memangkas rantai distribusi sekaligus meningkatkan nilai jual produk yang dihasilkan masyarakat setempat.
Pemkab Lumajang Siap Perkuat Kolaborasi
Mewakili Pemerintah Kabupaten Lumajang, Mohammad Ridha menegaskan dukungan pemerintah terhadap berbagai program pemberdayaan yang lahir dari kolaborasi lintas sektor.
Ia mengatakan pemerintah akan mengambil peran sebagai koordinator sekaligus katalisator agar sinergi antara perguruan tinggi, komunitas, dunia usaha dan masyarakat dapat berjalan lebih efektif.
Fokus pembangunan yang disiapkan mencakup tiga pilar utama:
• Peningkatan pendapatan masyarakat
• Pemberdayaan komunitas
• Optimalisasi potensi lokal
Ketiga aspek tersebut dipandang sebagai fondasi penting dalam membangun ekonomi masyarakat yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
Huntap Jadi Laboratorium Kehidupan Nyata
Rektor ITB Widya Gama Lumajang menjelaskan keterlibatan kampus di kawasan Huntap dimulai dari diskusi bersama pemuda, komunitas dan pemerintah desa mengenai berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat.
Sejak 2024, kampus secara aktif menjalankan program pengabdian masyarakat melalui pendampingan UMKM, penguatan manajemen usaha hingga pelatihan pemasaran digital.
Pada tahun 2026, program tersebut berkembang melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang salah satunya menggagas pembangunan mini museum sebagai bagian dari pengembangan kawasan edukasi.
“Tema tahun ini adalah representasi kolaborasi antara pengembangan ilmu pengetahuan dan pengabdian kepada masyarakat. Huntap bukan hanya menjadi lokasi pengabdian, tetapi laboratorium kehidupan nyata bagi mahasiswa dan dosen,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa perguruan tinggi harus mampu menghadirkan solusi yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, bukan hanya menghasilkan publikasi akademik.
Mahasiswa IBI Kesatuan Bogor Ikut Belajar Model Pemberdayaan
Workshop tersebut juga diikuti delegasi mahasiswa Institut Bisnis dan Informatika Kesatuan sebagai bagian dari agenda konferensi internasional dan publikasi ilmiah.
Kehadiran mahasiswa menjadi sarana pembelajaran langsung mengenai praktik pemberdayaan masyarakat berbasis kolaborasi yang telah diterapkan di Huntap Sumbermujur.
Selain itu, partisipasi mereka memperkuat integrasi antara pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat sebagai implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi.
Rangkaian ICEMAI 2026 sendiri mencatat capaian yang cukup besar dengan melibatkan:
• 115 artikel ilmiah
• 45 kompetisi business model
• 11 institusi pendidikan tinggi sebagai co-host
Melalui kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, komunitas, dunia usaha dan masyarakat, peserta berharap berbagai gagasan yang lahir dari forum ini dapat berkembang menjadi program nyata yang mampu meningkatkan kesejahteraan warga sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi lokal di kawasan Huntap Sumbermujur.
Editor: IJS










