
“Kadang yang paling sulit bukanlah presentasi di depan ratusan orang. Yang paling sulit adalah mengalahkan suara kecil di dalam kepala yang terus berkata: kamu tidak akan bisa.”
Penulis: Ifan Jafar Sidik
Harnas.id, LUMAJANG – Tidak semua perjalanan dimulai dengan langkah yang mantap. Ada kalanya sebuah perjalanan justru diawali oleh rasa gugup, cemas, sekaligus antusias yang bercampur menjadi satu.
Begitulah kisah 12 mahasiswa Program Magister Manajemen Institut Bisnis dan Informatika (IBI) Kesatuan Bogor saat menjadi delegasi The 1st International Conference on Economics, Management, Accounting, and Informatics (ICEMAI) 2026 yang mengusung tema Increasing Sustainable Business through Digital Innovation and Global Collaboration di ITB Widya Gama Lumajang, Jawa Timur, pada 8–9 Juli 2026.
Bagi sebagian besar delegasi, ini bukan sekadar perjalanan akademik. Ini adalah pengalaman pertama menjadi pemakalah pada konferensi internasional, mempresentasikan hasil penelitian dalam bahasa Inggris di hadapan akademisi dari berbagai perguruan tinggi. Sebuah kesempatan yang membanggakan, tetapi juga cukup membuat jantung berdegup lebih cepat.

Berangkat Sebelum Matahari Terbit
Selasa, 7 Juli 2026.
Pukul belum menunjukkan pukul 05.00 WIB ketika halaman Kampus IBI Kesatuan mulai dipenuhi koper, tas punggung, dan wajah-wajah yang menyimpan cerita masing-masing.
Ada yang datang dengan semangat luar biasa. Ada yang masih mengantuk. Ada pula yang sejak tiba terus membuka laptop, memastikan slide presentasi sudah benar. Sementara yang lain memilih duduk diam sambil menatap layar ponsel, mungkin berusaha mengalihkan pikiran dari satu hal yang terus menghantui.
“Besok presentasi pakai bahasa Inggris.”
Tepat pukul lima pagi, mobil travel yang membawa rombongan perlahan meninggalkan Kota Bogor.
Perjalanan menuju Lumajang diperkirakan memakan waktu sekitar 15 jam. Waktu yang cukup panjang untuk berpikir, bercanda, bahkan sesekali merasa panik.
Di dalam mobil, suasana awal terasa sunyi. Beberapa mahasiswa langsung terlelap. Yang lain sibuk membaca jurnal, mengulang materi presentasi, atau sekadar menggulir media sosial.
Namun kesunyian itu tidak bertahan lama.

Karaoke, Candaan, dan Kopi Rest Area
Hasna menjadi salah satu yang pertama memecah suasana.
“Sudahlah, presentasi itu besok. Hari ini kita nikmati dulu perjalanannya.”
Kalimat sederhana itu langsung disambut tawa.
Jihan yang memang terkenal humoris kemudian mulai melontarkan candaan-candaan ringan. Tidak lama kemudian, Cirus menyambungkan telepon genggamnya ke pengeras suara mobil.
Musik pun diputar.
Tanpa aba-aba, mobil travel berubah menjadi ruang karaoke berjalan.
Lagu demi lagu dinyanyikan bersama. Tidak ada yang peduli soal nada. Tidak ada yang malu suaranya fals. Justru dari situlah tawa terus bermunculan.
Perjalanan yang semula dipenuhi rasa gugup perlahan berubah menjadi perjalanan penuh cerita.
Di sela perjalanan, rombongan beberapa kali berhenti di rest area untuk melaksanakan salat, makan bersama, menyeruput kopi, sekaligus memberi waktu kendaraan beristirahat.
Momen-momen sederhana itu justru menjadi ruang berbagi cerita.
Tentang penelitian.
Tentang keluarga.
Tentang mimpi setelah lulus kuliah.
Dan tentu saja, tentang rasa takut menghadapi presentasi.

“Kalau Kita Percaya Penelitian Kita, Kenapa Harus Takut?”
Setiap orang memiliki caranya sendiri dalam menguatkan teman.
Fadli beberapa kali mengajak berdiskusi mengenai materi penelitian.
“Bukankah penelitian ini kita kerjakan sendiri? Kalau kita percaya pada penelitian kita, kenapa harus takut menjelaskannya?”
Budiyanto menambahkan dengan kalimat yang membuat semua mengangguk.
“Konferensi itu bukan tempat mencari siapa yang paling hebat. Ini ruang untuk belajar dan berbagi.”
Shafira yang sejak tadi lebih banyak mendengarkan hanya tersenyum.
“Kita pasti bisa.”
Sementara Ariani beberapa kali mengingatkan agar semua tidak terlalu larut dalam kecemasan, meskipun sebenernya dia lah yang cangar cemas dan gugup.
“Jangan lupa menikmati perjalanan. Setelah ini selesai, yang paling kita ingat pasti bukan gugupnya, tapi kenangannya.”
Kalimat itu benar-benar mengubah suasana.
Sebagai salah satu mahasiswa yang sejak awal berkali-kali membuka ulang slide presentasi, saya akhirnya ikut menyemangati teman-teman.
“Kalau nanti salah bahasa Inggris, ya lanjut saja. Tidak ada presenter yang sempurna. Yang penting kita berani berdiri di depan.”
Belakangan saya baru sadar, ternyata kalimat itu lebih banyak saya ucapkan untuk diri sendiri.

Di antara riuhnya perjalanan, ada satu sosok yang justru menjadi warna dengan caranya sendiri.
Namanya Cirus.
Berbeda dengan yang lain yang sesekali ramai berdiskusi atau ikut bernyanyi, Cirus lebih banyak memilih menikmati perjalanan dalam diam. Ia bukan tipe yang banyak berbicara. Sesekali hanya melempar senyum tipis sambil memperhatikan teman-temannya yang sedang bercanda.
Namun justru karena sikapnya yang tenang itu, Cirus kerap menjadi “korban” keisengan teman-teman.
Setiap kali suasana mulai hening, selalu ada saja yang menggoda.
“Hayo, Cirus… satu lagu dulu!”
Yang lain langsung menyambung dengan menirukan penggalan vokal khas lagu-lagu yang dipopulerkan Nisa Sabyan.
“Hmmmmm… hmmmm… hmmmmm…”
Sontak satu mobil kembali pecah oleh gelak tawa.
Cirus biasanya hanya menggeleng pelan sambil tersenyum malu. Sesekali ia ikut tertawa melihat tingkah teman-temannya. Tidak banyak kata yang keluar darinya, tetapi senyum kecil itu sudah cukup menjadi jawaban bahwa ia menikmati kebersamaan tersebut.
Tak ada yang merasa tersinggung. Justru momen-momen kecil seperti itu membuat perjalanan yang panjang terasa jauh lebih singkat. Candaan sederhana menjadi pengusir rasa gugup yang sejak pagi menemani kami.

Di balik karakter pendiamnya, Cirus mengajarkan satu hal: tidak semua orang menunjukkan semangat dengan cara yang sama. Ada yang menghidupkan suasana lewat cerita, ada yang lewat tawa, dan ada pula yang cukup hadir, tersenyum, lalu membuat orang lain merasa nyaman berada di sekitarnya.
Mungkin itulah indahnya sebuah perjalanan. Kami datang dengan kepribadian yang berbeda-beda, tetapi pulang dengan satu cerita yang sama—bahwa persahabatan tumbuh bukan karena semua orang serupa, melainkan karena setiap orang saling menerima apa adanya.
Dan tau gak? di tengah perjalanan panjang itu pun ada dua sosok dosen pembimbing juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari cerita kami, yakni Dr. Budi Setiawan dan Khairul Rangkuti, yang akrab kami sapa Pak UUn.
Alih-alih membiarkan suasana dipenuhi ketegangan, keduanya justru hadir sebagai penyemangat yang membuat perjalanan terasa lebih ringan. Setiap kali melihat ada mahasiswa yang mulai gelisah atau terlalu sering membuka kembali slide presentasi, mereka selalu mengingatkan agar kami tidak terlalu membebani diri sendiri.

Bagi mereka, konferensi internasional bukan sekadar tentang tampil sempurna, tetapi tentang keberanian membawa hasil penelitian ke ruang diskusi yang lebih luas. Mereka berulang kali mengajak kami menikmati setiap proses, karena pengalaman ini akan menjadi bekal yang jauh lebih berharga daripada sekadar hasil presentasi.
Yang paling berkesan, suasana formal antara dosen dan mahasiswa seolah menghilang selama perjalanan. Di sela-sela obrolan dan candaan, Dr. Budi Setiawan dan Pak Uun bahkan ikut larut dalam sesi karaoke dadakan di dalam mobil travel. Lagu demi lagu dinyanyikan bersama, disambut tepuk tangan dan gelak tawa para mahasiswa.

Momen itu menjadi pengingat bahwa seorang dosen bukan hanya hadir sebagai pembimbing akademik di ruang kelas, tetapi juga sebagai teman seperjalanan yang mampu menenangkan, menguatkan, dan menumbuhkan rasa percaya diri mahasiswanya.
Bagi kami, perhatian sederhana itu memiliki arti yang besar. Ketika rasa gugup mulai datang, melihat dosen pembimbing tetap santai, tersenyum, bahkan ikut bernyanyi bersama, membuat kami percaya bahwa tidak ada alasan untuk terlalu takut.
Perjalanan menuju ICEMAI 2026 akhirnya bukan hanya menjadi kisah tentang konferensi internasional, tetapi juga tentang kebersamaan. Tentang dosen dan mahasiswa yang berjalan berdampingan, saling menyemangati, saling menguatkan, hingga akhirnya bersama-sama membuktikan bahwa keberanian tumbuh dari lingkungan yang penuh dukungan.
Hari yang Paling Ditunggu
Sekitar pukul 22.00 WIB, rombongan akhirnya tiba di Lumajang.
Tubuh terasa lelah setelah hampir 15 jam perjalanan.
Namun hampir semua sepakat untuk segera beristirahat. Esok hari adalah hari yang menentukan.

Rabu pagi, para delegasi tampil rapi mengenakan pakaian formal. Setelah sarapan, mereka menuju Kampus ITB Widya Gama Lumajang untuk mengikuti pembukaan ICEMAI 2026.
Prosesi registrasi berjalan lancar.
Seminar pembuka berlangsung hangat.
Tetapi semua tahu, ada satu agenda yang diam-diam membuat semua berdebar.
Presentasi.
Sekitar pukul 13.00 WIB, peserta mulai memasuki ruang presentasi masing-masing.
Suasana mendadak berubah.
Yang biasanya banyak bercanda mendadak diam.
Ada yang membaca catatan untuk terakhir kalinya.
Ada yang mondar-mandir di depan ruangan.
Ada pula yang menarik napas panjang berkali-kali.

Ternyata Tidak Sesulit yang Dibayangkan
Ketika nama demi nama dipanggil, satu per satu mahasiswa mulai berdiri di depan peserta konferensi.
Kalimat pembuka dalam bahasa Inggris akhirnya terucap.
Memang tidak semuanya sempurna.
Ada yang sempat salah mengucapkan beberapa kata.
Ada yang berhenti sejenak karena gugup.
Namun presentasi tetap berjalan.
Diskusi berlangsung hangat.
Pertanyaan demi pertanyaan dapat dijawab dengan baik.
Dan tanpa terasa, seluruh sesi selesai.
Saat keluar dari ruang presentasi, hampir semua mengucapkan kalimat yang sama.
“Ternyata tidak sesulit yang kami bayangkan.”
Kalimat sederhana itu disambut tawa lega.
Ternyata musuh terbesar selama ini bukanlah bahasa Inggris, bukan pula peserta konferensi.
Musuh terbesar adalah rasa takut yang kami ciptakan sendiri.

Pulang Membawa Lebih dari Sekadar Sertifikat
Setelah seluruh rangkaian presentasi selesai, wajah-wajah tegang berubah menjadi senyum lebar.
Kini saatnya menikmati Lumajang, mengabadikan setiap sudut kota, mencicipi kuliner lokal, dan mensyukuri perjalanan yang telah dilewati bersama.
Perjalanan dari Bogor menuju Lumajang pada akhirnya bukan hanya tentang menghadiri konferensi internasional.
Bukan hanya tentang mempresentasikan hasil penelitian.
Bukan pula tentang sertifikat yang nanti akan dibingkai.
Perjalanan ini menjadi pelajaran bahwa keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut.
Keberanian adalah tetap melangkah meski hati masih berdebar.
Lima belas jam perjalanan itu mengajarkan satu hal yang mungkin tidak pernah kami temukan di ruang kuliah.
Bahwa mimpi besar selalu dimulai dari keberanian mengambil langkah pertama.

Dan sering kali, langkah pertama itu dimulai dari sebuah perjalanan panjang bersama orang-orang yang saling menguatkan.
Karena pada akhirnya, kami tidak hanya pulang membawa pengalaman akademik.
Kami pulang membawa cerita.
Cerita tentang persahabatan, keberanian, dan keyakinan bahwa tidak ada mimpi yang terlalu jauh untuk dikejar, selama kita berani berangkat.
“Jangan takut memulai hanya karena merasa belum cukup hebat. Semua orang yang hari ini terlihat percaya diri, pernah berada di titik yang sama: gugup, ragu, dan takut gagal. Bedanya, mereka memilih tetap melangkah.”
Editor: IJS









