Kebun Raya Bogor Bikin Wisata Makin Interaktif, Pengunjung Bisa Belajar Tanaman Sambil Praktik

Pengunjung Mengikuti Kelas Edukasi Tumbuhan di Kebun Raya Bogor. Foto: KRB
Pengunjung Mengikuti Kelas Edukasi Tumbuhan di Kebun Raya Bogor. Foto: KRB

Harnas.id, BOGOR – Berkunjung ke kebun raya kini tidak harus berhenti pada aktivitas berjalan-jalan dan menikmati pemandangan. Kebun Raya Bogor mengembangkan konsep eduwisata berbasis pengalaman yang memungkinkan pengunjung belajar mengenai tumbuhan sekaligus mempraktikkannya secara langsung.

Konsep tersebut diwujudkan melalui sejumlah kelas edukasi yang menggabungkan pengetahuan tentang tumbuhan dengan aktivitas kreatif. Pengunjung tidak hanya menerima materi dari fasilitator, tetapi juga terlibat langsung dalam proses pengolahan, perawatan, hingga pemanfaatan tanaman.

Berbagai pilihan kelas disediakan dengan tema yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Program tersebut mencakup Kompos, Propagasi Tanaman Buah atau mencangkok, Tabulampot, Kokedama, Nepenthes, Terrarium, Platycerium, Kultur Jaringan, Oshibana, hingga Ecoprint.

Setiap kelas dirancang dalam bentuk aktivitas praktik dengan pendampingan fasilitator. Biaya kelas edukasi dimulai dari Rp65.000 per peserta, di luar tiket masuk Kebun Raya, dengan harga yang menyesuaikan jenis aktivitas yang dipilih. Bahan dan perlengkapan praktik telah disiapkan pengelola.

General Manager Corporate Communication PT Mitra Natura Raya, Zaenal Arifin, mengatakan kelas edukasi dikembangkan untuk memperluas fungsi Kebun Raya sebagai ruang interaksi masyarakat dengan alam. Menurutnya, pengunjung dapat memperoleh pengalaman langsung sekaligus memahami lebih dekat mengenai tumbuhan dan konservasi.

“Kebun Raya bukan hanya tempat untuk melihat dan menikmati koleksi tumbuhan. Di sini masyarakat juga dapat belajar dan berinteraksi langsung dengan tumbuhan melalui berbagai aktivitas. Kami ingin pengalaman tersebut dapat membangun pengetahuan sekaligus kepedulian terhadap konservasi,” ujarnya.

Zaenal menilai metode pembelajaran berbasis pengalaman membuat materi mengenai tumbuhan lebih mudah dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari. Peserta dapat melihat langsung bagaimana tanaman diperbanyak, dirawat, dimanfaatkan, hingga dikembangkan menjadi produk kreatif.

“Ketika seseorang terlibat langsung dalam sebuah proses, pengalaman belajarnya akan berbeda. Karena itu, kelas-kelas ini kami rancang agar peserta tidak hanya menerima informasi, tetapi juga mencoba dan menghasilkan sesuatu dari proses tersebut,” katanya.

Salah satu kelas yang mengedepankan praktik langsung adalah Oshibana. Kelas ini mengajak peserta mengenal seni membuat karya menggunakan bunga dan dedaunan yang dikeringkan melalui teknik press.

Peserta terlebih dahulu diperkenalkan pada teknik dasar Oshibana sebelum mencoba membuat karya dengan material yang telah disediakan. Proses tersebut menempatkan tumbuhan bukan hanya sebagai objek yang diamati, tetapi juga sebagai material yang dapat diolah secara kreatif.

Istilah Oshibana berasal dari bahasa Jepang, yakni oshi yang berarti “ditekan” dan bana yang berarti “bunga”. Melalui teknik tersebut, bunga dan daun yang telah dikeringkan dapat mempertahankan bentuk serta warna alaminya sebelum disusun menjadi karya seni.

Meski terlihat sederhana, proses membuat Oshibana membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Peserta harus memperhatikan komposisi serta menyusun material tumbuhan secara cermat agar menghasilkan karya dengan nilai estetika.

Pengalaman mengikuti kelas tersebut dirasakan peserta Kampung Inggris LC di Gedung Samida, Kebun Raya Bogor, pada 4 Juli 2026. Salah satu peserta, Aurora (15), mengaku tertarik karena memiliki ketertarikan pada seni visual dan estetika bunga.

“Saya tertarik sekali dengan kelas ini karena baru pertama kali ikut. Sebenarnya saya juga suka hal-hal seni visual dan estetika bunga, jadi excited saat ikut kelas ini. Setelah mengikuti kelas edukasi ini, saya jadi tahu bagaimana proses menata dan mengawetkan bunga dengan teknik Oshibana,” ujarnya.

Peserta lainnya, Arsyad, melihat kegiatan tersebut sebagai pilihan aktivitas yang dapat melatih konsentrasi sekaligus kreativitas. Ia juga menilai teknik Oshibana memiliki karakter berbeda dibandingkan kerajinan tangan yang biasa ditemuinya.

“Saya tertarik ikut karena ingin mencari kegiatan positif yang bisa melatih fokus dan kreativitas. Seni Oshibana ini unik dan berbeda dari kerajinan tangan pada umumnya. Setelah mengikuti kelas ini, saya jadi tahu cara membuat Oshibana. Selain itu, manfaat yang paling saya rasakan adalah melatih kesabaran,” tuturnya.

Pengembangan kelas edukasi menjadi salah satu cara Kebun Raya Bogor memperluas fungsi kawasan konservasi. Ruang hijau tidak hanya dimanfaatkan sebagai tempat rekreasi, tetapi juga sebagai ruang pembelajaran yang memungkinkan masyarakat berinteraksi langsung dengan lingkungan.

Program tersebut dapat diikuti berbagai kelompok masyarakat. Pesertanya mulai dari anak-anak, keluarga, pelajar, mahasiswa, komunitas, hingga kelompok yang membutuhkan kegiatan pembelajaran di luar ruang kelas.

Konsep serupa juga dikembangkan di kebun raya lain yang dikelola PT Mitra Natura Raya sebagai mitra strategis Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Materi dan aktivitas disesuaikan dengan karakter masing-masing kebun raya, termasuk koleksi tumbuhan serta kondisi lingkungan yang tersedia.

Pendekatan tersebut membuat kunjungan ke kebun raya memiliki pilihan aktivitas yang lebih beragam. Pengunjung dapat tetap menikmati suasana alam sekaligus memperoleh pengetahuan mengenai keanekaragaman hayati dan praktik konservasi.

Bagi pengelola, pengalaman langsung juga menjadi salah satu cara mendekatkan isu konservasi dengan aktivitas masyarakat. Pengetahuan yang diperoleh dari kegiatan sederhana diharapkan tidak berhenti selama berada di kawasan kebun raya, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Pada akhirnya, kami ingin masyarakat pulang dari Kebun Raya tidak hanya membawa foto atau hasil karya, tetapi juga membawa pengetahuan dan pengalaman baru tentang tumbuhan. Dengan cara itu, konservasi dapat hadir lebih dekat dalam kehidupan masyarakat,” pungkas Zaenal.

Editor: IJS