
Harnas.id, KARO – Aktivitas Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, kembali menjadi perhatian setelah gunung api tersebut berstatus Level III atau Siaga. Polri bersama Pemerintah Kabupaten Karo, TNI, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), BPBD, serta sejumlah unsur terkait meningkatkan kesiapsiagaan untuk menghadapi perubahan aktivitas vulkanik.
Status Siaga ditetapkan setelah Gunung Sinabung mengalami erupsi pada 31 Agustus 2026 pukul 10.17 WIB. Dalam situasi tersebut, keselamatan masyarakat menjadi perhatian utama, termasuk pengamanan kawasan rawan, pelayanan publik, dukungan kesehatan, kesiapan evakuasi, hingga pemenuhan kebutuhan warga yang terdampak.
Karo Penmas Divhumas Polri Brigjen Pol. Trunoyudo Wisnu Andiko mengatakan, jajaran Polri bersama unsur gabungan akan tetap berada di lapangan untuk memastikan masyarakat mendapatkan perlindungan dan pelayanan yang dibutuhkan.
“Untuk menghindari jatuhnya korban luka dan jiwa, kami mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tidak panik, mengikuti setiap arahan personel Polri bersama tim gabungan di lapangan, dan tidak memasuki zona yang telah dinyatakan berbahaya. Keselamatan masyarakat adalah prioritas utama,” ujar Trunoyudo dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (1/9/2026).
Pemantauan aktivitas Gunung Sinabung pada 1 September 2026 pukul 06.00 hingga 12.00 WIB menunjukkan masih adanya aktivitas vulkanik. Asap kawah teramati berwarna putih hingga kelabu dengan ketinggian sekitar 50–600 meter, sementara abu vulkanik terpantau bergerak ke arah timur–tenggara.
Dari sisi kegempaan, tercatat sembilan kali gempa hembusan dan enam kali gempa vulkanik dalam. Selain itu, terpantau tremor menerus dengan amplitudo dominan sekitar 2 milimeter.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena aktivitas gunung api dapat mengalami perubahan sewaktu-waktu. Karena itu, pemantauan dan kesiapan personel di kawasan terdampak terus dilakukan untuk mengantisipasi perkembangan situasi.
Polda Sumatera Utara menyiagakan 176 personel untuk mendukung pengamanan dan pelayanan kepada masyarakat. Personel tersebut terdiri atas:
- 92 personel Brimob;
- 80 personel Samapta; dan
- 4 personel tim kesehatan.
Ratusan personel tersebut ditempatkan di sejumlah titik strategis. Selain menjaga kawasan rawan, mereka disiapkan untuk membantu mengatur mobilitas warga, mendukung evakuasi, memberikan pelayanan kesehatan, serta memastikan informasi terkait kondisi Gunung Sinabung dapat diterima masyarakat secara cepat dan tepat.
Kekuatan tersebut masih ditambah sekitar 550 personel gabungan. Mereka terdiri atas 500 personel TNI dan 50 personel Pemerintah Kabupaten Karo yang bekerja bersama di bawah koordinasi pemerintah daerah serta instansi terkait.
Sejalan dengan status Siaga, radius aman yang harus diperhatikan masyarakat ditetapkan hingga 6 kilometer dari pusat aktivitas Gunung Sinabung. Sementara itu, kawasan dengan risiko tinggi terhadap lontaran material berada dalam radius sekitar 3 kilometer.
Desa Payung dan Desa Kuta Tengah turut menjadi perhatian karena memiliki potensi terdampak awan panas. Untuk mengurangi risiko masyarakat memasuki kawasan berbahaya, area Lau Kawar dan kebun anggur ditutup sementara.
Polri, TNI, Pemkab Karo, BPBD, serta unsur lainnya juga melakukan pemantauan dan sterilisasi pada kawasan yang berpotensi membahayakan. Masyarakat diminta tidak mendekati area tersebut, termasuk hanya untuk menyaksikan aktivitas gunung maupun mengambil gambar.
Penanganan dampak erupsi tidak hanya dilakukan melalui pengamanan kawasan. Sejumlah langkah telah disiapkan dan dijalankan bersama untuk membantu masyarakat yang terdampak abu vulkanik maupun aktivitas Gunung Sinabung.
Langkah tersebut meliputi:
- Penyiraman wilayah yang terdampak abu vulkanik;
- Pembagian 15.000 masker kepada masyarakat;
- Peliburan sekolah selama dua hari di wilayah terdampak;
- Penyiapan pelayanan kesehatan;
- Penyediaan dapur lapangan;
- Penyaluran logistik dan kebutuhan dasar;
- Penguatan posko terpadu; serta
- Penyiapan jalur dan kendaraan evakuasi.
Posko Terpadu Penanggulangan Bencana ditempatkan di Kantor Koramil 04/Simpang Empat. Posko tersebut berfungsi sebagai pusat koordinasi untuk memantau perkembangan situasi, memberikan pelayanan kepada masyarakat, mengelola informasi, sekaligus mengendalikan langkah penanganan jika aktivitas Gunung Sinabung kembali meningkat.
Pemeriksaan terhadap jalur evakuasi, titik kumpul, lokasi pengungsian, tenaga kesehatan, kendaraan, logistik, dan kebutuhan dasar masyarakat dilakukan secara berkala. Sosialisasi juga terus diberikan kepada warga agar mereka mengetahui langkah yang harus ditempuh apabila kondisi berkembang menjadi keadaan darurat.
Trunoyudo meminta masyarakat menjadikan informasi resmi sebagai acuan utama dalam menyikapi perkembangan Gunung Sinabung. Informasi dari PVMBG, pemerintah daerah, BPBD, maupun petugas yang berada di lapangan dinilai penting untuk mencegah warga menerima informasi yang keliru.
“Kami meminta masyarakat tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terverifikasi. Jangan menyebarkan kabar yang dapat menimbulkan kepanikan. Ikuti arahan petugas dan segera bergerak menuju lokasi aman apabila terdapat perintah evakuasi,” katanya.
Selain ancaman aktivitas vulkanik, paparan abu juga perlu menjadi perhatian masyarakat. Polri mengingatkan warga agar menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah, terutama di kawasan yang terdampak abu vulkanik.
Warga juga diminta menjaga kondisi kesehatan dan mengurangi aktivitas di ruang terbuka selama paparan abu berlangsung. Apabila mengalami gangguan pernapasan maupun keluhan kesehatan lainnya, masyarakat diimbau segera mendapatkan pemeriksaan medis.
Hingga saat ini, tidak terdapat laporan korban jiwa akibat erupsi Gunung Sinabung. Polri bersama Pemkab Karo, TNI, PVMBG, BPBD, dan seluruh unsur terkait masih memantau perkembangan aktivitas gunung serta menyesuaikan langkah penanganan berdasarkan kondisi lapangan dan rekomendasi resmi PVMBG.
Editor: IJS










