Menteri Transmigrasi Singgung Ketimpangan Kesempatan, Kampus Diminta Tak Hanya Cetak Talenta

Menteri Transmigrasi RI, Dr. Iftitah Sulaiman Suryanagara, yang hadir secara daring saat menjadi pembicara kunci dengan materi berjudul “Membangun Kawasan Transmigrasi untuk Menciptakan Kemandirian Pangan dan Kawasan Ekonomi Baru” pada hari kedua Rapat Kerja Nasional Majelis Dewan Guru Besar Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (MDGB-PTNBH) dengan moderator Guru Besar Fakultas Pertanian Unpad, Prof. Rija Sudirja. Kegiatan digelar di Grha Sanusi Hardjadinata, Unpad Kampus Dipati Ukur, Bandung, Jumat (19/6). (Foto oleh: Jalasenastri Saprala)*
Menteri Transmigrasi RI, Dr. Iftitah Sulaiman Suryanagara, yang hadir secara daring saat menjadi pembicara kunci dengan materi berjudul “Membangun Kawasan Transmigrasi untuk Menciptakan Kemandirian Pangan dan Kawasan Ekonomi Baru” pada hari kedua Rapat Kerja Nasional Majelis Dewan Guru Besar Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (MDGB-PTNBH) dengan moderator Guru Besar Fakultas Pertanian Unpad, Prof. Rija Sudirja. Kegiatan digelar di Grha Sanusi Hardjadinata, Unpad Kampus Dipati Ukur, Bandung, Jumat (19/6). (Foto oleh: Jalasenastri Saprala)*

Harnas.id, BANDUNG – Menteri Transmigrasi Republik Indonesia, Dr. Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara, menilai Indonesia tidak sedang menghadapi krisis sumber daya manusia unggul. Persoalan yang lebih mendasar justru terletak pada distribusi pengetahuan, teknologi, dan talenta yang belum merata ke seluruh wilayah Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Iftitah saat menjadi pembicara kunci pada hari kedua Rapat Kerja Nasional Majelis Dewan Guru Besar Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (MDGB-PTNBH) yang berlangsung di Graha Sanusi Hardjadinata, Universitas Padjadjaran (Unpad), Kampus Dipati Ukur, Bandung, Jumat (19/6).

Kegiatan yang mengusung tema “Kampus Sehat: Membangun Ketahanan Fisik, Mental, Sosial, dan Ekologis Menuju Masa Depan Berkelanjutan” itu menghadirkan para akademisi dari berbagai perguruan tinggi negeri badan hukum di Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut, Iftitah menyampaikan materi bertajuk “Membangun Kawasan Transmigrasi untuk Menciptakan Kemandirian Pangan dan Kawasan Ekonomi Baru”. Sesi diskusi dipandu Guru Besar Fakultas Pertanian Unpad, Prof. Dr. Rija Sudirja.

Hadir secara daring, Iftitah menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan lebih banyak individu yang bersedia mengaplikasikan kemampuan dan pengetahuannya untuk mendorong kemajuan bangsa, khususnya di wilayah-wilayah yang masih membutuhkan sentuhan pembangunan.

“Bangsa ini membutuhkan lebih banyak orang yang bersedia menggunakan kepintarannya. Kita (Indonesia) sedang mencari talenta terbaik yang bersedia mengaktifkan bangsa ini,” ujar Iftitah.

Menurutnya, pembangunan nasional tidak hanya berbicara mengenai pertumbuhan ekonomi atau peningkatan pendapatan masyarakat. Yang tidak kalah penting adalah memastikan setiap warga negara memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang dan memperoleh akses terhadap kemajuan.

Ia menilai kesenjangan terbesar yang masih dihadapi Indonesia saat ini bukan semata persoalan ekonomi, melainkan ketimpangan kesempatan yang dirasakan masyarakat di berbagai daerah.

“Ketimpangan terbesar dihadapi bukanlah ketimpangan pendapatan, melainkan ketimpangan kesempatan. Tugas negara adalah memastikan bahwa setiap anak bangsa memiliki kesempatan yang sama untuk maju,” katanya.

Dalam paparannya, Iftitah menjelaskan bahwa perguruan tinggi dan program transmigrasi memiliki benang merah yang sama dalam agenda pembangunan nasional. Keduanya sama-sama berperan menciptakan pemerataan dan membuka peluang pertumbuhan baru di berbagai daerah.

Perguruan tinggi selama ini dikenal sebagai pusat lahirnya ilmu pengetahuan, riset, dan inovasi. Sementara kawasan transmigrasi dapat menjadi ruang nyata untuk mengimplementasikan berbagai hasil penelitian dan teknologi yang dikembangkan kampus agar langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Ia menilai sinergi antara dunia akademik dan kawasan transmigrasi dapat mempercepat pemerataan pembangunan sekaligus menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru di luar Pulau Jawa.

Menurut Iftitah, masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh kemampuan pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan dalam mengembangkan wilayah-wilayah baru sebagai sumber pertumbuhan ekonomi nasional.

Pembangunan daerah, lanjutnya, tidak cukup hanya mengandalkan kekayaan sumber daya alam. Faktor yang paling menentukan justru kemampuan mengolah potensi tersebut melalui ilmu pengetahuan dan inovasi.

“Sumber daya alam tidak otomatis menghasilkan kesejahteraan. Yang menghasilkan kesejahteraan adalah pengetahuan, yang mengubah sumber daya menjadi nilai tambah dan potensi menjadi kemajuan. Ketika pengetahuan hadir, maka lahirlah knowledge development,” ungkapnya.

Karena itu, ia mendorong perguruan tinggi untuk semakin aktif mengambil bagian dalam penyelesaian berbagai persoalan riil yang dihadapi masyarakat. Menurutnya, kontribusi kampus tidak boleh berhenti pada publikasi ilmiah atau capaian peringkat internasional semata.

Perguruan tinggi, kata dia, perlu menunjukkan dampak konkret terhadap pembangunan nasional, terutama dalam menciptakan inovasi yang mampu meningkatkan kualitas hidup masyarakat di berbagai daerah.

Iftitah menambahkan bahwa kolaborasi yang kuat antara perguruan tinggi dan kawasan transmigrasi berpotensi melahirkan pusat-pusat kemajuan baru yang tersebar lebih merata di Indonesia.

Ia berharap para akademisi tidak hanya menjadi penghasil pengetahuan, tetapi juga menjadi penggerak yang membawa manfaat ilmu pengetahuan hingga menjangkau wilayah-wilayah terluar dan terpencil.

“Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang hanya mampu menciptakan pengetahuan. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghadirkan pengetahuan hingga ke titik paling jauh di Indonesia,” pungkasnya.

Editor: IJS