
Harnas.id, JAKARTA – Kisah klasik tentang pergulatan hidup perempuan pribumi pada masa kolonial kembali hadir di panggung seni ibu kota. Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta melalui Unit Pengelola Gedung Pertunjukan Seni Budaya (UP GPSB) menggelar pementasan rutin Sandiwara Sunda Miss Tjitjih 1928 bertajuk “Nyai Dasimah” dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun ke-499 Kota Jakarta.
Pementasan yang berlangsung di Gedung Kesenian Miss Tjitjih, Kemayoran, Jakarta Pusat, akhir pekan lalu itu dapat dinikmati masyarakat secara gratis. Antusiasme publik pun terlihat tinggi, bahkan seluruh kapasitas kursi yang tersedia terisi penuh.
Kehadiran pertunjukan tersebut menjadi bagian dari upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dalam menjaga dan mengembangkan keberagaman budaya yang tumbuh di Jakarta. Komitmen itu sejalan dengan ketentuan Pasal 31 ayat (1) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2024 tentang Provinsi Daerah Khusus Jakarta yang memberikan kewenangan khusus kepada Jakarta dalam urusan kebudayaan, baik untuk memajukan budaya Betawi maupun budaya lain yang berkembang di wilayah tersebut.
Kepala Unit Pengelola Gedung Pertunjukan Seni Budaya (UP GPSB) Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta, Rinaldi, mengatakan bahwa penyelenggaraan pementasan rutin Sandiwara Sunda Miss Tjitjih 1928 dilakukan berdasarkan kerja sama dengan Perkumpulan Kesenian Miss Tjitjih 1928.
“Adapun jadwal pementasan rutin Sandiwara Sunda Miss Tjitjih 1928 yang bersifat gratis, dilakukan sesuai kesepakatan kerjasama bersama Perkumpulan Kesenian Miss Tjitjih 1928 dengan tetap memperhatikan kemampuan keuangan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta,” ujar Rinaldi.
Pementasan “Nyai Dasimah” menjadi pertunjukan rutin keempat yang digelar sepanjang tahun 2026 melalui kolaborasi antara Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta dan Perkumpulan Kesenian Miss Tjitjih 1928.
Menurut Rinaldi, seluruh kursi yang tersedia di gedung pertunjukan tersebut terisi penuh oleh penonton.
“Pertunjukan dipadati oleh 252 penonton, sesuai dengan kapasitas kursi yang tersedia di gedung kesenian tersebut,”katanya.
Tak sekadar menyuguhkan hiburan, pementasan ini juga mengangkat kembali kisah yang telah lama hidup dalam khazanah sastra dan seni pertunjukan Indonesia. Melalui panggung teater, penonton diajak melihat kembali realitas sosial yang dihadapi perempuan pribumi di era kolonial Hindia Belanda.
“Sebagaimana diketahui, kisah mengenai sosok Nyai Dasimah telah lama dikenal dalam dunia sastra dan seni pertunjukan di Indonesia. Sandiwara Sunda Miss Tjitjih 1928 yang bertajuk ‘Nyai Dasimah’ kali ini, sarat akan nilai sejarah dan refleksi sosial, berhasil mengajak kita untuk menginterpretasikan kembali mengenai kehidupan perempuan pribumi di Batavia pada masa kolonial Hindia Belanda,” jelas Rinaldi.
Tragedi Hidup Nyai Dasimah
Cerita yang diangkat dalam pementasan tersebut berpusat pada sosok Dasimah, perempuan pribumi asal Bogor yang dikenal cantik, cerdas, dan memiliki hati yang lembut. Ia hidup pada masa ketika Batavia menjadi pusat aktivitas kolonial sekaligus ruang pertemuan berbagai kelompok masyarakat dengan latar budaya berbeda.
Di tengah ketimpangan sosial yang kuat, Dasimah berkenalan dengan Edward, seorang pria Inggris terpandang yang tinggal di Batavia. Kehidupan bersama Edward membawanya pada kondisi ekonomi yang lebih baik dan kehidupan yang berkecukupan.
Namun kemewahan yang dinikmati Dasimah tidak serta-merta menghapus persoalan yang dihadapinya. Statusnya sebagai seorang “nyai” membuat dirinya tetap berada dalam posisi rentan dan sering menjadi sasaran stigma sosial di lingkungan masyarakat kolonial.
Situasi tersebut kemudian dimanfaatkan oleh Samiun, seorang pria yang hadir dalam kehidupannya. Dengan berbagai rayuan dan pendekatan emosional, Samiun perlahan memengaruhi cara pandang Dasimah terhadap kehidupannya bersama Edward.
Dasimah akhirnya memutuskan meninggalkan Edward. Keputusan yang diyakininya akan membuka jalan menuju kebebasan justru menjadi awal dari rangkaian konflik yang semakin rumit.
Alih-alih menemukan kehidupan yang lebih baik, Dasimah justru terjebak dalam hubungan yang sarat kepentingan dan manipulasi. Dari sana ia menyadari bahwa tidak semua cinta hadir dengan ketulusan, dan tidak semua pilihan berakhir sesuai harapan.
Perjalanan hidup Dasimah kemudian berubah menjadi perjuangan panjang untuk mempertahankan harga diri, mencari kebenaran, dan melawan tekanan sosial yang terus membayanginya sebagai perempuan pribumi di era kolonial. Kisah itu berakhir tragis dan meninggalkan refleksi mendalam mengenai ketidakadilan sosial pada masa tersebut.
Ribuan Orang Berebut Tiket Gratis
Selain menjadi ruang pelestarian budaya, pementasan ini juga menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap seni pertunjukan tradisional.
Rinaldi mengungkapkan bahwa tren kunjungan penonton ke berbagai pertunjukan yang digelar di bawah pengelolaan UP GPSB terus mengalami peningkatan. Fenomena tersebut terlihat jelas dalam pementasan “Nyai Dasimah” yang mencatat angka interaksi sangat tinggi pada sistem pemesanan tiket daring.
Tercatat sebanyak 15.261 interaksi terjadi pada laman pemesanan e-tiket pertunjukan, sementara kapasitas Gedung Kesenian Miss Tjitjih hanya menyediakan 252 kursi penonton.
“Pemesanan tiket dilakukan melalui sistem daring dengan masyarakat berebut 252 kursi penonton yang tersedia. Tercatat total 15.261 interaksi pada laman pemesanan tiket pertunjukan ‘Nyai Dasimah’ di Gedung Kesenian Miss Tjitjih,” papar Rinaldi.
Jumlah tersebut menunjukkan tingginya ketertarikan masyarakat terhadap pertunjukan budaya yang diselenggarakan secara terbuka dan gratis. Di sisi lain, capaian itu juga menjadi indikator bahwa sistem informasi dan pemesanan tiket yang diterapkan mampu menjangkau publik secara luas.
Rinaldi menyebut, tingginya minat masyarakat tidak hanya terlihat dari jumlah pemesan tiket. Tidak sedikit warga yang tetap datang langsung ke lokasi pertunjukan meskipun tidak berhasil memperoleh e-tiket.
“Animo masyarakat terhadap pertunjukan seni budaya begitu tinggi, minat ini terlihat dari jumlah interaksi pemesanan e-tiket pertunjukan. Bahkan, tak jarang mereka yang tidak berhasil mendapat e-tiket tetap hadir langsung di gedung pertunjukan dengan berharap dapat mengisi bangku penonton pemilik e-tiket yang batal hadir,” ujarnya.
Menariknya, mayoritas penonton yang hadir justru berasal dari kalangan muda, termasuk pelajar tingkat SMP dan SMA yang datang bersama orang tua atau wali mereka.
“Menariknya, penonton Sandiwara Sunda Miss Tjitjih 1928 umumnya generasi muda dan usia pelajar SMP dan SMA bersama orang tua/wali mereka,” imbuh Rinaldi.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa seni pertunjukan tradisional masih memiliki daya tarik kuat di tengah kehidupan perkotaan yang semakin modern. Selain menjadi sarana hiburan, pertunjukan budaya juga berfungsi sebagai media edukasi sejarah, nilai sosial, dan pelestarian budaya daerah yang hidup di Jakarta.
Sebagai bentuk respons terhadap tingginya minat masyarakat, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana melanjutkan program pementasan rutin sepanjang tahun ini.
“Kami mengapresiasi minat penonton yang cukup tinggi pada pertunjukan ini, sehingga tidak semua dapat diakomodir. Direncanakan sepanjang tahun 2026, terdapat 10 kali pertunjukan Sandiwara Sunda Miss Tjitjih 1928 yang bersifat gratis,” jelas Rinaldi.
“Bersama kami menciptakan dan mengembangkan ekosistem berkesenian di Jakarta,” pungkasnya.
Editor: IJS










