
Oleh: Pipip A. Rifai Hasan
Harnas.id, JAKARTA — Agresi AS-Israel terhadap Iran didahului oleh narasi lama yang terus dipelihara: dunia digambarkan sebagai ajang konflik peradaban. Gagasan ini yang dipopulerkan oleh Samuel P. Huntington dalam The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order kembali dimunculkan dalam ketegangan global yang sedang berlangsung terutama di Timur Tengah. Tetapi jelas retorika tersebut bukan hanya keliru tetapi juga berbahaya.
Donald Trump, Peter Hegseth, dan Benjamin Netanyahu membingkai serangan terhadap Iran dalam dikotomi yang artifisial: Barat versus Islam, Peradaban versus Kebiadaban, dan Dunia Bebas versus Terorisme. Retorika semacam ini tentu saja bukan didasarkan pada penalaran tapi konstruksi ideologis yang penuh distorsi bahkan merupakan khayalan dan kebohongan politik. Realitas kompleks disederhanakan menjadi narasi kebaikan vs. kejahatan yang gampang dikonsumsi masyarakat awam, tetapi mengaburkan kenyataan dan menyesatkan langkah keputusan politik yang layak.
Dunia tanpa Islam
Jelas gambaran para penghasut perang itu delusi semata. Sebagaimana ditunjukan oleh Graham E. Fuller dalam A World without Islam, agama — termasuk Islam – bukanlah sebab utama konflik global. Faktor-faktor seperti geopolitik, perebutan kekuasaan, imperialisme, nasionalisme, dan kompetisi sumber daya jauh lebih menentukan sebagai pemicu konflik dunia. Pola konflik global akan tetap serupa, jika Islam tidak pernah muncul dalam sejarah sekali pun. Baca saja konflik-konflik yang terjadi sebelum kemunculan atau tanpa keterlibatan Islam: Yunani versus Persia, Kristen Katolik versus Kristen Ortodoks, dan perang di antara sesama kaum Kristen Eropa. Islam seringkali hanyalah “bahasa” atau “kendaraan” dari konflik yang lebih dalam, bukan akar utamanya.
Dengan demikian narasi “benturan peradaban” tidak mempunyai fondasi sama sekali. Membingkai konflik AS-Israel versus Iran sebagai konflik agama dan peradaban–bukan karena faktor politik dan ekonomi–hanyalah bentuk pengalihan bahkan justifikasi palsu atas agenda kekuasaan tertentu. Narasi tersebut, tidak hanya keliru, tetapi juga semata berfungsi untuk membenarkan tindakan militer dan dominasi geopolitik untuk mimpi Israel Raya.
Pembingkaian semacam itu juga memperkuat Islamofobia global. Ketika Islam secara sengaja terus menerus diposisikan sebagai ancaman inheren maka yang lahir bukanlah pemahaman, melainkan ketakutan kolektif yang irasional. Di sinilah relevansi pemikiran John L. Esposito dalam The Islamic Threat: Myth or Reality? menjadi sangat penting untuk disimak kembali. Esposito menunjukkan bahwa anggapan tentang “ancaman Islam” adalah mitos yang dibangun oleh stereotip, bias media, dan kepentingan politik. Dunia Islam bukanlah entitas monolitik, melainkan sangat beragam—baik secara teologis, politik, maupun kultural. Karena itu, memperlakukan Islam sebagai musuh peradaban adalah kesalahan mendasar.
Fakta di lapangan juga semakin menegaskan kegagalan teori benturan peradaban. Konflik tidak hanya terjadi antar-peradaban, tetapi justru sering terjadi di dalam peradaban yang sama—baik di dunia Barat maupun di dunia Muslim. Penolakan negara-negara Eropa untuk membantu agresi AS-Israel atas Iran, misalnya, menunjukkan bahwa “Barat” sendiri bukanlah blok yang homogen. Perang Russia versus Ukraina merupakan contoh nyata konflik di antara sesama peradaban Kristen ortdodoks. Perang Balkan di antara Serbia, Kroasia dan Slovenia merupakan konflik di antara sesama negara-bangsa Slavia yang menganut Kristen. Konflik yang hampir-hampir tidak berhenti di Kongo terjadi di antara sesama etnis dengan latar belakang Kristen. Demikian juga konflik antara Rwanda dengan Kongo (RDC).
Dunia Muslim pun dipenuhi keragaman kepentingan politik yang tidak selalu sejalan. Negara-negara Arab Teluk Persia memprotes serangan bela diri Iran terhadap pangkalan militer di negara-negara tersebut. Tapi tidak ada sepotong kalimat pun protes terhadap agresi AS-Israel yang menyerang terlebih dulu. Lihat juga perang yang terus berlangsung antara pasukan pemerintah Sudan (SAF) melawan Rapid Support Forces (RSF). Demikian juga terjadi konflik bersenjata antara antara kelompok-kelompok di Yaman, dan ketegangan antara Afghanistan dengan Pakistan.
Di Asia Tenggara terjadi konflik antara Thailand melawan Kamboja, yang berlatar belakang agama dan budaya yang sama. Pemerintah Myanmar bukan hanya melakukan kejahatan perang dan kemanusiaan terhadap etnis Rohingya Muslim tapi juga berkonflik dengan etnik Karen yang beragama Budha. Begitu pula yang terjadi di Asia Timur antara berbagai negara yang berlatar belakang Konfusianisme.
Realitas global tersebut menunjukan konflik yang terjadi hari ini lebih tepat dipahami sebagai benturan kepentingan, bukan benturan peradaban. Konflik yang kita saksikan jauh lebih bisa dijelaskan oleh perebutan pengaruh, kontrol energi, aliansi militer, dan warisan kolonial dibandingkan perbedaan agama. Dalam konteks agresi AS-Israel terhadap Iran, ekspansi wilayah Israel dan nafsu AS untuk mempertahankan dominasi globalnya yang mulai mengalami erosi, merupakan sumber tambahan terjadinya konflik yang masih belum ada penyelesaiannya.
Karena itu, melanjutkan narasi benturan peradaban bukan hanya kesalahan intelektual, tetapi juga kegagalan moral. Ia menutup ruang dialog, memperdalam kecurigaan, dan memperpanjang konflik. Dunia tidak membutuhkan lebih banyak retorika permusuhan; dunia membutuhkan keberanian untuk membangun saling pengertian.
Dialog antar Peradaban
Dunia memerlukan dialog antar-peradaban untuk mengelola perbedaan yang menuntut pengakuan bahwa tidak ada satu peradaban pun yang memiliki monopoli atas kebenaran, moralitas, atau kemajuan. Semua peradaban memiliki kontribusi, sekaligus keterbatasan.
Lebih dari itu, dialog juga berarti dapat menggeser fokus dari identitas ke keadilan. Ketimpangan ekonomi, intervensi militer, pelanggaran hukum internasional, dan standar ganda dalam politik global merupakan akar penyebab konflik global yang harus segera diatasi. Tanpa itu, dialog akan menjadi retorika kosong.
Perbedaan itu alamiah dan merupakan keniscayaan. Namun untuk menjadikannya bermanfaat bagi masa depan dunia kita harus menempuhnya lewat jalan dialog yang dibangun di atas rasionalitas dan empati, bukan jalan konfrontasi yang diliputi ketakutan dan prasangka.
Dialog antar peradaban yang berbeda, akan membuka jalan untuk memahami konflik secara lebih jernih. Sebagai hasilnya, harapan akan dunia yang lebih adil, damai, dan beradab dapat mulai dibangun.










