Kemlu RI Kecam Pencegatan Armada Gaza, Nasib WNI di Global Sumud Flotilla Jadi Sorotan

Ilustrasi Bendera Indonesia. Foto: aboodi-vesakaran-unsplash
Ilustrasi Bendera Indonesia. Foto: aboodi-vesakaran-unsplash

Harnas.id, JAKARTA – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI mengecam keras tindakan militer Israel yang mencegat armada kemanusiaan internasional Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 di sekitar perairan Siprus, Mediterania Timur. Insiden tersebut turut menjadi perhatian serius karena terdapat warga negara Indonesia (WNI) dan jurnalis asal Indonesia yang berada di dalam rombongan kapal bantuan menuju Gaza tersebut.

Juru Bicara I Kemlu RI, Yvonne Mewengkang mengatakan, pemerintah Indonesia mendesak Israel segera membebaskan kapal-kapal sipil beserta seluruh awak yang ditahan. Pemerintah juga meminta agar bantuan kemanusiaan yang dibawa armada tersebut tetap dapat disalurkan kepada warga Palestina sesuai hukum humaniter internasional.

“Kementerian Luar Negeri mengecam keras tindakan militer Israel yang telah mencegat sejumlah kapal yang tergabung dalam misi kemanusiaan internasional Global Sumud Flotilla 2.0 di sekitar perairan Siprus, Mediterania Timur,” ujar Yvonne dalam keterangannya, Senin (18/5/2026).

Berdasarkan informasi yang diterima pemerintah dari Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), sedikitnya 10 kapal dilaporkan telah dicegat. Beberapa di antaranya yakni Amanda, Barbaros, Josef, dan Blue Toys.

Kemlu RI menyebut terdapat seorang WNI bernama Andi Angga Prasadewa yang berada di atas kapal Josef. Ia diketahui tergabung sebagai delegasi GPCI bersama Rumah Zakat dalam misi kemanusiaan menuju Jalur Gaza.

Selain itu, pemerintah juga masih berupaya memastikan kondisi kapal yang membawa jurnalis Republika, Bambang Nuroyono. Hingga kini komunikasi dengan kapal tersebut masih terus dilakukan untuk mengetahui perkembangan situasi di lapangan.

“Kapal yang membawa jurnalis Bambang Noroyono sampai saat ini masih terus dicoba dihubungi guna mengetahui status kapal termasuk kondisi yang bersangkutan,” kata Yvonne.

Kemlu mengakui situasi di lapangan masih berkembang sangat cepat. Karena itu, Direktorat Pelindungan WNI Kemlu RI langsung berkoordinasi dengan sejumlah Kedutaan Besar RI di kawasan Timur Tengah dan Turki guna menyiapkan langkah antisipatif apabila diperlukan proses evakuasi maupun pemulangan WNI.

“Sejak awal Kemlu melalui Direktorat PWNI telah berkoordinasi dengan KBRI Ankara, KBRI Kairo, dan KBRI Amman untuk memastikan keselamatan dan percepatan proses pemulangan para WNI apabila diperlukan,” ujarnya.

Pemerintah menegaskan bahwa pelindungan WNI tetap menjadi prioritas utama di tengah dinamika situasi yang terjadi di kawasan konflik tersebut.

“Pelindungan WNI akan terus menjadi prioritas utama Pemerintah Indonesia di tengah situasi yang berkembang sangat cepat,” tegas Yvonne.

Armada Global Sumud Flotilla 2.0 diketahui membawa bantuan kemanusiaan untuk warga Gaza yang hingga kini masih berada di bawah blokade Israel. Misi tersebut melibatkan puluhan kapal dan relawan internasional dari berbagai negara.

Di sisi lain, dua jurnalis Republika, Bambang Nuroyono dan Thoudy Badai, dilaporkan turut ditangkap oleh militer Israel saat mengikuti misi kemanusiaan tersebut di perairan internasional.

Pemimpin Redaksi Republika, Andi Muhyiddin mengecam tindakan intersepsi yang dilakukan militer Israel. Menurutnya, tindakan tersebut merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional dan prinsip kemanusiaan universal.

“Para relawan datang bukan membawa senjata, melainkan solidaritas, obat-obatan, bantuan logistik, dan suara nurani dunia untuk warga sipil Palestina yang selama berbulan-bulan menghadapi blokade, kelaparan, dan agresi tanpa henti,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa keselamatan seluruh relawan, termasuk jurnalis Indonesia yang menjalankan tugas kemanusiaan dan jurnalistik, menjadi perhatian serius pihaknya.

“Keselamatan mereka menjadi perhatian serius kami. Kami berdiri bersama para relawan kemanusiaan dunia. Dan kami menolak segala bentuk kriminalisasi terhadap misi kemanusiaan di perairan internasional,” katanya.

Sementara itu, berdasarkan laporan Aljazeera, armada bantuan Global Sumud mulai dicegat ketika berada sekitar 250 mil dari Gaza. Penyelenggara menyebut personel militer Israel telah menaiki beberapa kapal di lepas pantai Siprus.

Lebih dari 50 kapal diketahui berangkat dari Marmaris, Turki, dalam upaya menembus blokade laut menuju Jalur Gaza. Salah satu kapal bernama Munki bahkan dilaporkan sempat kehilangan kontak setelah mengalami intimidasi dari kapal militer Israel.

“Kapal armada Munki telah diserang oleh pasukan pendudukan Israel. Saat ini kami kehilangan kontak dengan kapal tersebut,” demikian pernyataan Global Sumud Filosu Turkiye melalui platform X.

Media Israel, Yedioth Ahronoth, melaporkan sekitar 100 aktivis ditahan dan dipindahkan ke kapal angkatan laut Israel sebelum dibawa menuju pelabuhan Ashdod. Namun laporan tersebut belum dapat diverifikasi secara independen oleh Aljazeera dan belum ada pernyataan resmi dari militer Israel.

Sebelum pencegatan dilakukan, Kementerian Luar Negeri Israel sempat memperingatkan armada bantuan agar membatalkan pelayaran menuju Gaza.

“Ubah haluan dan segera kembali,” demikian bunyi pernyataan resmi pemerintah Israel.

Israel sendiri telah memberlakukan blokade terhadap Gaza sejak 2007 dengan alasan mencegah masuknya senjata kepada Hamas dan kelompok bersenjata lainnya. Namun berbagai organisasi kemanusiaan dan kelompok hak asasi manusia internasional menilai blokade tersebut telah berdampak besar terhadap warga sipil Palestina dan disebut sebagai bentuk hukuman kolektif.

Editor: IJS