Harnas.id, MAKKAH – Musyrif Diny Prof KH Asrorun Niam Sholeh mengajak jamaah haji Indonesia untuk tidak hanya fokus menjalankan rangkaian ibadah di Tanah Suci, tetapi juga memperbanyak doa bagi bangsa dan para pemimpin negara. Menurutnya, momentum haji menjadi ruang spiritual penting untuk memohon kebaikan bagi Indonesia agar menjadi negeri yang damai, adil, dan sejahtera.
Dalam keterangannya kepada MUI Digital, Ahad (17/5/2026), Prof Niam meminta jamaah menyisipkan doa khusus untuk Presiden Prabowo Subianto serta seluruh pemimpin bangsa agar mampu menjalankan amanah dengan adil dan bijaksana.
“Jangan lupa mendoakan Presiden dan para pemimpin negeri untuk dapat memimpin dan membangun bangsa Indonesia dengan adil, bijaksana,” ujar Prof Niam.
Ketua MUI Bidang Fatwa itu menilai doa dari para jamaah haji memiliki makna besar, terutama saat berada di Tanah Haram yang diyakini memiliki keutamaan tersendiri. Ia berharap doa-doa tersebut menjadi bagian dari ikhtiar membawa Indonesia menuju kondisi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafuur.
Menjelang puncak pelaksanaan ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), Prof Niam juga mengingatkan jamaah untuk mempersiapkan diri secara matang. Ia mengajak jamaah memperbanyak doa untuk kelancaran ibadah haji, keluarga yang harmonis, hingga kondisi masyarakat Indonesia yang aman dan sejahtera.
“Berdoa kepada Allah SWT untuk kelancaran pelaksanaan ibadah haji, keluarga yang sakinah, dan masyarakat bangsa Indonesia yang damai dan sejahtera,” lanjutnya.
Selain aspek spiritual, Prof Niam juga menyoroti pentingnya pemahaman fikih haji secara praktis. Ia meminta para pembimbing ibadah lebih aktif memberikan edukasi kepada jamaah mengenai syarat, rukun, wajib haji, hingga larangan-larangan yang harus dihindari selama menjalankan ibadah.
Menurutnya, ibadah haji bukan sekadar perjalanan fisik ke Tanah Suci, tetapi ibadah mahdlah yang memiliki aturan ketat dan harus dipahami secara benar oleh setiap jamaah.
“Jangan hanya sekedar berangkat ke Tanah Suci tanpa membekali diri dengan ilmu manasik haji. Karena haji adalah ibadah mahdlah yang harus memenuhi syarat rukun serta ketentuan keagamaan,” jelasnya.
Guru Besar Ilmu Fikih UIN Jakarta tersebut juga mengingatkan jamaah agar menjaga kondisi kesehatan selama berada di Arab Saudi. Ia meminta jamaah tidak memaksakan aktivitas berlebihan dan lebih memprioritaskan kesiapan fisik menjelang fase Armuzna yang membutuhkan stamina ekstra.
Ia menjelaskan bahwa ibadah haji memiliki unsur ibadah jasmaniyah atau fisik, sehingga kebugaran menjadi faktor penting selain kesiapan mental spiritual dan finansial.
“Terutama di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Ibadah haji itu ada unsur ibadah jasmaniyah, ibadah fisik, karenanya butuh kebugaran. Di samping ibadah maliyah dan ibadah ruhiyah,” tegasnya.
Pengasuh Pondok Pesantren An-Nahdlah Depok itu juga mengajak jamaah menjadikan haji sebagai momentum muhasabah dan perbaikan diri. Ia menilai nilai-nilai dalam ibadah haji dapat diterapkan dalam kehidupan sosial maupun kehidupan berbangsa.
“Perbaiki negeri mulai dari perbaiki diri sendiri. Etos haji adalah etos kesetaraan, kebersamaan, kejujuran dan kerja keras,” ujarnya.
Prof Niam turut mengimbau jamaah memperbanyak ibadah, dzikir, dan munajat selama berada di Makkah. Bagi jamaah yang sehat, ia mendorong untuk melaksanakan salat berjamaah di Masjidil Haram dengan memanfaatkan fasilitas transportasi yang tersedia.
Sementara bagi jamaah yang memiliki keterbatasan fisik atau uzur, ia menyarankan tetap melaksanakan salat berjamaah di masjid-masjid sekitar tempat tinggal karena seluruh kawasan pemondokan jamaah Indonesia masih berada di wilayah Tanah Haram.
Ia kembali menegaskan pentingnya pemahaman manasik haji yang benar agar jamaah dapat menjalankan seluruh rangkaian ibadah sesuai tuntunan syariat.
“Jamaah haji perlu terus mengaji dan memahami tata cara manasik haji secara benar. Pembimbing ibadah perlu mengintensifkan pembekalan fikih haji praktif,” pungkasnya.
Editor: IJS











