Ledakan KMP Aceh Hebat 2 Tuai Sorotan, Suryadi Djamil Minta Investigasi Tak Berhenti di Masalah Teknis

Petugas melakukan penanganan pascainsiden ledakan di KMP Aceh Hebat 2 di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh. Foto: Harnas.id
Petugas melakukan penanganan pascainsiden ledakan di KMP Aceh Hebat 2 di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh. Foto: Harnas.id

Harnas.id, BANDA ACEH – Insiden ledakan yang terjadi di ruang mesin KMP Aceh Hebat 2 di Pelabuhan Ulee Lheue, Banda Aceh, terus menjadi perhatian publik. Peristiwa yang mengakibatkan 15 orang mengalami luka-luka tersebut kini memunculkan berbagai pertanyaan terkait aspek keselamatan, perawatan kapal, hingga proses pengadaan armada yang melayani jalur penyeberangan Banda Aceh–Sabang itu.

Tokoh masyarakat Aceh, Suryadi Djamil, menjadi salah satu pihak yang menyuarakan desakan agar penyebab insiden tersebut diusut secara menyeluruh dan terbuka. Menurutnya, investigasi yang dilakukan aparat dan instansi terkait harus mampu menjawab berbagai pertanyaan publik yang muncul pascakejadian.

Sebelum menyampaikan kritiknya, Suryadi lebih dahulu mengungkapkan rasa prihatin atas musibah yang menimpa para korban. Ia menyoroti kondisi para taruna Politeknik Pelayaran (Poltekpel) Malahayati serta Kepala Kamar Mesin (KKM) yang mengalami luka bakar dan masih menjalani perawatan di RSUD dr. Zainoel Abidin.

“Pertama-tama, saya menyampaikan rasa duka dan keprihatinan yang sangat mendalam atas musibah yang menimpa anak-anak kita, para taruna yang sedang menimba ilmu di sana. Kejadian ini adalah tamparan keras bagi dunia pelayaran kita,” ujar Suryadi kepada awak media, Jumat malam (12/6/2026).

Di tengah proses penanganan korban, Suryadi meminta aparat penegak hukum bersama Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) melakukan investigasi secara menyeluruh. Ia menilai penyebab ledakan perlu ditelusuri hingga ke akar persoalan agar tidak menimbulkan spekulasi yang berkepanjangan di masyarakat.

Menurutnya, penyelidikan tidak cukup hanya berfokus pada lokasi kejadian, tetapi juga harus mencakup aspek operasional, teknis, serta tata kelola keselamatan yang diterapkan selama kapal beroperasi.

“Kami mendesak aparat penegak hukum mengusut tuntas kasus ini dari hulu ke hilir. Harus dicari tahu apa penyebab mendasar dari ledakan ini, agar ada pertanggungjawaban hukum yang jelas dan kejadian serupa tidak pernah terulang kembali di masa depan,” tegasnya.

Selain meminta investigasi menyeluruh, Suryadi juga menyinggung kembali polemik yang sempat muncul saat proses pengadaan kapal tersebut beberapa tahun lalu. Ia menilai insiden yang terjadi saat ini membuat publik kembali mempertanyakan kondisi dan spesifikasi armada yang dioperasikan.

Menurutnya, transparansi mengenai spesifikasi teknis kapal menjadi penting agar masyarakat memperoleh kepastian informasi dan tidak terjebak pada berbagai asumsi yang berkembang.

“Sejak awal kehadirannya, proyek kapal ini sudah memicu polemik. Dengan adanya ledakan ini, wajar jika masyarakat kembali menduga-duga, apakah pembelian KMP Aceh Hebat 2 itu sebenarnya adalah kapal bekas yang hanya dicat ulang agar terlihat mentereng?” kata Suryadi.

Ia juga mempertanyakan kondisi komponen utama yang digunakan dalam kapal tersebut. Menurutnya, dokumen teknis dan proses pengadaan perlu dibuka secara transparan apabila memang diperlukan dalam proses investigasi.

Suryadi menilai publik memiliki hak untuk mengetahui kondisi sebenarnya dari armada yang digunakan sebagai sarana transportasi masyarakat. Terlebih, kapal tersebut memiliki peran penting dalam menghubungkan Banda Aceh dan Sabang yang menjadi salah satu jalur penyeberangan strategis di Aceh.

“Publik berhak tahu, ini sebenarnya kapal baru yang utuh, atau justru kapal baru dengan mesin lama? Logikanya, kapal yang relatif belum terlalu tua tidak seharusnya mengalami kegagalan sistem hidrolik fatal hingga meledak seperti itu, kecuali ada masalah pada usia komponen mesinnya,” tambahnya.

Tak hanya menyoroti aspek pengadaan, Suryadi juga mengkritisi sistem perawatan dan pengawasan operasional kapal. Ia menilai insiden tersebut harus menjadi bahan evaluasi terhadap standar keselamatan yang diterapkan dalam pengelolaan armada penyeberangan.

Menurutnya, keberadaan sistem pemeliharaan rutin dan pemeriksaan berkala memiliki peran krusial untuk memastikan seluruh komponen kapal tetap berada dalam kondisi layak operasi.

“Kamar mesin adalah jantungnya kapal. Jika sistem hidrolik pintu kedap saja bisa meledak saat dioperasikan, ini menandakan fungsi kontrol dan perawatan rutin tidak berjalan maksimal. Nyawa manusia, apalagi para taruna muda yang merupakan aset bangsa, dipertaruhkan di sini akibat kelalaian manajemen keselamatan,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia berharap investigasi yang tengah berlangsung tidak berhenti pada kesimpulan adanya gangguan teknis semata. Menurutnya, peristiwa tersebut seharusnya menjadi momentum evaluasi yang lebih luas terhadap sistem keselamatan transportasi laut di Aceh.

Evaluasi tersebut dinilai penting mengingat transportasi penyeberangan masih menjadi salah satu moda utama yang digunakan masyarakat. Dengan adanya pembenahan menyeluruh, risiko terjadinya insiden serupa di masa mendatang diharapkan dapat diminimalkan.

Suryadi menegaskan bahwa keselamatan penumpang dan awak kapal harus menjadi prioritas utama dalam setiap pengelolaan armada publik. Ia berharap hasil investigasi nantinya dapat memberikan kejelasan kepada masyarakat sekaligus menjadi dasar perbaikan sistem keselamatan pelayaran di Aceh.

Editor: IJS