
Harnas.id, BOGOR – Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, mengajak generasi muda untuk memperluas cara pandang dan memiliki wawasan global dalam menghadapi berbagai tantangan yang diprediksi semakin kompleks di masa mendatang. Menurutnya, persoalan yang akan dihadapi generasi penerus tidak hanya berkaitan dengan dinamika politik dan geopolitik, tetapi juga menyangkut krisis lingkungan, energi, pangan, hingga perkembangan teknologi yang bergerak sangat cepat.
Pesan tersebut disampaikan Dedie saat menghadiri Grand Seminar bertajuk “Empowering Future Leaders with Creative Mind and Critical Perspectives” yang berlangsung di Auditorium Bima Arya, Perpustakaan dan Galeri Kota Bogor, Rabu (29/7/2026).
Dalam forum yang dihadiri kalangan pelajar dan generasi muda tersebut, Dedie memaparkan sejumlah isu strategis yang menurutnya harus mulai dipahami sejak sekarang. Mulai dari perubahan iklim, pengelolaan sumber daya alam, ketahanan energi, ketahanan pangan, hingga pengembangan kualitas sumber daya manusia.
Menurut Dedie, salah satu persoalan yang saat ini sudah berada di depan mata adalah perubahan iklim. Ia menilai fenomena tersebut tidak lagi sekadar menjadi isu global yang dibahas dalam berbagai forum internasional, melainkan sudah menghadirkan dampak nyata yang dirasakan masyarakat di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Ia bahkan menyebut kondisi saat ini telah memasuki fase yang lebih serius, yakni munculnya berbagai bencana yang dipicu oleh kerusakan sistem iklim dunia.
“Sebuah indikasi berbahaya bagi manusia, khususnya bangsa Indonesia, karena bukan lagi climate change tapi sebuah fenomena gejala climate disaster. Jadi ada kerusakan siklus iklim dunia yang berdampak langsung pada Indonesia,” ungkap Dedie Rachim.
Menurutnya, perubahan pola cuaca, meningkatnya frekuensi bencana alam, hingga ancaman terhadap sektor pangan menjadi bukti bahwa persoalan lingkungan tidak bisa lagi dipandang sebagai isu jangka panjang. Dampaknya kini telah dirasakan secara langsung dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, Dedie menilai generasi muda harus mulai menempatkan isu lingkungan sebagai bagian penting dalam agenda pembangunan masa depan. Ia menegaskan bahwa tantangan yang akan dihadapi bangsa tidak hanya berkutat pada urusan politik nasional maupun hubungan antarnegara.
“Ini tantangan sesungguhnya generasi muda. Jadi tidak hanya geopolitik saja, tidak hanya politik dalam negeri, tapi bagaimana kondisi alam yang seharusnya normal akan menghadapi hambatan dan ini menjadi tantangan besar,” sambungnya.
Selain isu lingkungan, Dedie juga menyoroti pentingnya membangun kemandirian nasional melalui penguatan sektor energi dan pangan. Menurutnya, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang sangat besar, namun potensi tersebut harus mampu dikelola secara optimal agar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Ia menilai ketergantungan terhadap pihak luar harus mulai dikurangi melalui inovasi dan pengembangan teknologi yang berbasis pada potensi dalam negeri. Salah satu sektor yang dinilai memiliki peluang besar adalah pengembangan energi baru dan terbarukan.
Dedie pun mendorong generasi muda untuk aktif terlibat dalam mencari solusi atas berbagai persoalan energi yang akan dihadapi Indonesia di masa depan. Kreativitas dan kemampuan berpikir kritis dinilai menjadi modal penting untuk melahirkan terobosan baru.
Menurutnya, sumber daya alam yang melimpah tidak akan memiliki nilai tambah apabila hanya diekspor dalam bentuk mentah tanpa proses pengolahan yang memadai. Karena itu, dibutuhkan generasi yang mampu mengubah potensi tersebut menjadi produk yang bernilai ekonomi sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Tidak hanya energi, persoalan pengelolaan sampah juga menjadi perhatian yang disampaikan dalam seminar tersebut. Dedie menilai isu sampah tidak boleh lagi dipandang sekadar sebagai persoalan kebersihan lingkungan, melainkan peluang ekonomi yang dapat memberikan manfaat luas jika dikelola dengan tepat.
“Itu yang akan kita hadapi ke depan, tantangan-tantangan ini yang harus dipecahkan dengan konsep-konsep baru. Seperti dalam pengelolaan sampah, anak muda harus mampu dan bisa mengelola sampah dari hulu ke hilir. Sebab itu juga akan berdampak pada peningkatan ekonomi,” ucapnya.
Ia menambahkan, kemampuan menciptakan solusi atas berbagai persoalan lingkungan dan pembangunan akan menjadi faktor penting dalam mewujudkan Indonesia yang lebih mandiri. Oleh sebab itu, peran generasi muda tidak hanya dibutuhkan sebagai penerus, tetapi juga sebagai penggerak perubahan.
Dedie meyakini keberhasilan Indonesia menghadapi tantangan global akan sangat ditentukan oleh kualitas generasi mudanya saat ini. Semakin siap anak muda memahami persoalan dunia dan menawarkan solusi inovatif, semakin besar pula peluang Indonesia menjadi bangsa yang berdiri di atas kekuatan sendiri.
“Itu dimulai dari para anak muda generasi penerus yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan,” ungkapnya.
Editor: IJS










