
Harnas.id, SURABAYA – Adopsi sepeda motor listrik di Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan meski memiliki potensi pasar yang besar. Kondisi tersebut mendorong lulusan program doktor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Dr. Fiky Two Nando, S.T., M.T., merumuskan model kebijakan komersialisasi sepeda motor listrik untuk mempercepat peralihan dari kendaraan berbahan bakar fosil.
Melalui disertasinya, doktor asal Pekanbaru tersebut mengidentifikasi berbagai faktor yang memengaruhi penerimaan pasar terhadap sepeda motor listrik. Menurut Fiky, kesiapan teknologi bukan satu-satunya aspek yang menentukan keberhasilan komersialisasi kendaraan listrik.
Kepercayaan konsumen, harga awal kendaraan, nilai jual kembali, layanan purnajual, ketersediaan suku cadang, fasilitas pengisian daya, hingga kepastian kebijakan turut menjadi pertimbangan masyarakat dalam memilih sepeda motor listrik.
“Produk yang secara teknis baik belum tentu langsung diterima pasar,” ungkap Fiky.
Dalam penelitiannya, Fiky tidak hanya mengidentifikasi faktor-faktor yang berpengaruh, tetapi juga mengelompokkannya menjadi faktor pendorong (push) dan faktor penarik (pull). Faktor push berasal dari lingkungan eksternal, seperti regulasi, sedangkan faktor pull merupakan aspek yang dapat meningkatkan ketertarikan konsumen, seperti garansi dan kesiapan teknologi.
“Faktor push dan pull itulah yang menjadi novelty atau keterbaruan pada penelitian ini,” jelasnya.
Untuk memetakan faktor-faktor tersebut, Fiky melakukan studi literatur sistematis yang kemudian dilanjutkan dengan penilaian dari 12 pakar yang berasal dari kalangan akademisi, peneliti, industri, hingga regulator pemerintah.
Sebanyak 41 faktor dianalisis menggunakan metode Fuzzy Delphi. Dari jumlah tersebut, 26 faktor memenuhi ambang konsensus para pakar.
“Metode ini membantu mengurangi subjektivitas penilaian individu dan menghasilkan tingkat kesepakatan yang lebih terukur,” jelas Fiky, yang lahir pada 12 November 1991.
Hasil analisis menunjukkan, ketersediaan daya listrik yang memadai dan garansi produk menjadi dua faktor dengan tingkat kepentingan tertinggi. Faktor lainnya meliputi biaya operasional, keamanan produk, kemudahan pengisian baterai, kemampuan menurunkan emisi, ketersediaan komponen, serta layanan purnajual.
Sementara itu, faktor kecepatan maksimum dan variasi produk tidak memenuhi tingkat kesepakatan yang ditetapkan dalam penelitian.
Tahap berikutnya dilakukan dengan menggunakan pendekatan sistem dinamik untuk melihat perkembangan populasi sepeda motor listrik berdasarkan sejumlah skenario kebijakan.
Pada kondisi awal, simulasi menggunakan asumsi harga bahan bakar minyak (BBM) sebesar Rp10 ribu per liter, masa garansi lima tahun, tanpa insentif pajak tahunan, serta penambahan sekitar 60 Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) per tahun.
Hasil simulasi menunjukkan pertumbuhan populasi sepeda motor listrik pada kondisi tersebut belum cukup cepat untuk mencapai target pemerintah.
Namun, melalui skenario berikutnya, target populasi sebesar dua juta unit dapat dicapai sekitar 2035 ketika masa garansi diperpanjang menjadi 10 tahun.
Menurut Fiky, masa garansi berkaitan erat dengan risiko yang dipertimbangkan konsumen sebelum membeli kendaraan listrik, terutama terkait ketahanan baterai dan biaya penggantian komponen.
“Garansi yang panjang memberikan instrumen pembangun kepercayaan pasar,” paparnya.
Berdasarkan hasil simulasi, Fiky merumuskan lima rekomendasi kebijakan untuk mempercepat komersialisasi sepeda motor listrik di Indonesia.
Kelima rekomendasi tersebut meliputi perpanjangan masa garansi menjadi 10 tahun, penyesuaian harga subsidi BBM menuju harga reguler, pembebasan pajak tahunan, pemberian insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN), serta penambahan SPKLU secara masif dan merata.
“Rekomendasi kebijakan tersebut perlu dijalankan secara kolaboratif,” ujarnya.
Fiky menjelaskan, pemerintah memiliki peran dalam memberikan kepastian regulasi, standardisasi, perlindungan konsumen, serta pengembangan infrastruktur pendukung. Sementara itu, industri perlu memperkuat kualitas produk, layanan purnajual, ketersediaan suku cadang, dan skema garansi.
Penelitian tersebut juga telah menghasilkan publikasi pada jurnal terindeks Scopus Q1, Automotive Experience 2025, serta publikasi pada konferensi internasional terindeks Scopus, ICIMECE dan ICENIS.
Ke depan, Fiky berharap pengembangan penelitian dapat diarahkan untuk memperkuat model dengan mempertimbangkan sebaran SPKLU, kapasitas jaringan listrik di setiap daerah, kebijakan fiskal, serta perilaku konsumen.
Disertasi tersebut dibimbing oleh Dr. Ir. I Ketut Gunarta, M.T. sebagai promotor dan Putu Dana Karningsih, S.T., M.Eng.Sc., Ph.D. sebagai co-promotor.
Penelitian ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-7 tentang Energi Bersih dan Terjangkau serta poin ke-9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. (HUMAS ITS)










