YPAN Latih Guru SD Banyuasin Persiapkan Penerapan Bahasa Inggris sebagai Mata Pelajaran Wajib

Pelatihan Bahasa Inggris guru SD Banyuasin

Harnas.id, YOGYAKARTA – Yayasan Pendidikan Adiluhung Nusantara (YPAN) menggelar pelatihan Bahasa Inggris profesional bagi guru dan kepala sekolah dasar (SD) Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, sebagai langkah mempersiapkan tenaga pendidik menghadapi penerapan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib pada tahun ajaran 2027/2028.

Program bertajuk Professional English Training: English Professional and Sustainable Instructional Leadership tersebut berlangsung di Yogyakarta pada 25–28 Oktober 2026. Kegiatan ini diikuti 84 guru dan 40 kepala sekolah SD Kabupaten Banyuasin.

YPAN, yang merupakan mitra Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (APKASI), menyelenggarakan pelatihan ini melalui kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Banyuasin. Program tersebut mencakup peningkatan kompetensi Bahasa Inggris bagi guru serta penguatan kepemimpinan instruksional berkelanjutan bagi kepala sekolah.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Banyuasin, Dra. Hj. Yosi Zartini, M.M., mengatakan pelatihan ini penting untuk membekali para pendidik dengan kemampuan dan pemahaman dasar Bahasa Inggris sebelum mata pelajaran tersebut diberlakukan secara wajib di jenjang SD.

“Pelatihan Bahasa Inggris bagi guru SD sangat penting dengan adanya Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 12 Tahun 2024. Mata pelajaran Bahasa Inggris yang sebelumnya bersifat pilihan akan menjadi mata pelajaran wajib pada tahun ajaran 2027/2028,” kata Yosi.

Perkuat Kompetensi Bahasa Inggris dan Kepemimpinan Sekolah

Dalam pelatihan Bahasa Inggris, para guru mendapatkan materi yang disusun untuk memperkuat pemahaman tata bahasa dan kemampuan membentuk kalimat dalam Bahasa Inggris.

Materi yang diberikan meliputi Fundamental English Grammar, antara lain penggunaan don’t dan doesn’t pada Simple Present Tense, penggunaan didn’t pada Simple Past Tense, serta pemahaman hubungan antara Future Tense dan modal.

Peserta juga mempelajari Sentence Patterns & Expressions, yang mencakup penggunaan kata tanya (question words), pola there is, this is, dan that is, serta konstruksi be going to dan be able to.

Materi lainnya meliputi Gerund & Verb Forms, perbedaan gerund, kalimat sederhana (simple sentence), dan kalimat perintah (command sentence), serta struktur kalimat lanjutan, termasuk passive voice dan penggunaan bentuk kata kerja berkelanjutan.

Pendekatan pembelajaran diarahkan untuk membantu guru memahami logika dan penggunaan tata bahasa, sehingga proses belajar tidak hanya bertumpu pada hafalan rumus.

Sementara itu, pelatihan Sustainable Instructional Leadership bagi kepala sekolah difokuskan pada penguatan kapasitas kepemimpinan dan pengelolaan pembelajaran di sekolah.

Program ini menghadirkan Dwi Esti Andriani, M.Ed.St., Ed.D., dan Dr. Cepi Safruddin Abdul Jabar, M.Pd., dosen Program S1 Manajemen Pendidikan, sebagai pemateri kepemimpinan instruksional. Adapun pelatihan Bahasa Inggris dipandu Waryono, M.Pd., CEO sekaligus Founder Englishopedia Institute Yogyakarta.

Banyuasin Siapkan Guru Hadapi Kebijakan Baru

Pemerintah Kabupaten Banyuasin menyambut perubahan kebijakan pembelajaran Bahasa Inggris di tingkat SD dengan mempersiapkan kompetensi guru sejak dini.

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 12 Tahun 2024 sebagaimana dirujuk dalam program tersebut, Bahasa Inggris bersifat pilihan hingga tahun ajaran 2026/2027 dan menjadi mata pelajaran wajib mulai tahun ajaran 2027/2028.

Dalam implementasinya, kesiapan guru menjadi faktor penting agar kebijakan tersebut dapat berjalan efektif. Guru perlu memiliki kemampuan Bahasa Inggris yang memadai sekaligus keterampilan menyampaikan materi sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik.

Pemerintah Kabupaten Banyuasin di bawah kepemimpinan Bupati Dr. H. Askolani, S.H., M.H., mengambil langkah persiapan melalui kerja sama dengan APKASI dan YPAN. Selain membekali guru dengan kompetensi Bahasa Inggris, program ini juga melibatkan kepala sekolah agar mereka dapat mempersiapkan perencanaan pembelajaran dan mendukung penerapan mata pelajaran tersebut di sekolah masing-masing.

“Kami menyediakan pelatihan ini sebagai langkah mempersiapkan para guru SD mengajar Bahasa Inggris. Jadi, saat mata pelajaran itu menjadi wajib, mereka sudah siap. Pelatihan ini sangat penting karena banyak guru yang belum atau bahkan tidak paham dengan Bahasa Inggris,” ujar Yosi.

Pemilihan Yogyakarta sebagai lokasi pelatihan juga menjadi bagian dari upaya memperluas wawasan peserta. Menurut Yosi, para guru dan kepala sekolah berkesempatan melakukan studi banding dengan mengunjungi lembaga pendidikan yang menerapkan penggunaan Bahasa Inggris.

“Lalu mengapa di Yogyakarta? Kita tahu, Yogyakarta merupakan kota pelajar. Selama pelatihan, para guru dan kepala sekolah juga melakukan studi banding dengan mengunjungi lembaga pendidikan yang menerapkan penggunaan Bahasa Inggris,” tuturnya.

YPAN Dorong Peningkatan Kualitas SDM Pendidikan

Kolaborasi dengan YPAN menjadi bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Banyuasin untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia di sektor pendidikan.

Selain menyelenggarakan pelatihan bagi guru dan tenaga kependidikan, YPAN juga menjalankan berbagai program pengembangan profesional bagi aparatur sipil negara (ASN) di sejumlah daerah. Program-program tersebut diarahkan untuk memperkuat kapasitas sumber daya manusia agar lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan pelayanan publik.

Ketua YPAN, Siti Nurkhayati, M.Pd., mengatakan yayasan yang dipimpinnya terus mendorong peningkatan kompetensi tenaga pendidik melalui program pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan.

“Hingga kini, YPAN telah menjangkau lebih dari 251.497 peserta pelatihan di 275 kabupaten, dengan pendekatan yang berbasis riset, relevan dengan kebutuhan lapangan, dan berorientasi pada hasil nyata di dunia kerja dan pelayanan publik. Dengan pengalaman yang teruji di seluruh Indonesia, YPAN terus berperan sebagai katalisator perubahan dan transformasi pendidikan serta pengembangan SDM nasional,” kata Nurkhayati dalam sambutannya.

Ia menegaskan bahwa peningkatan kompetensi guru merupakan kebutuhan yang tidak dapat diabaikan, terutama dalam menghadapi perubahan kebijakan pendidikan dan perkembangan teknologi.

Nurkhayati juga mengapresiasi semangat para guru dari wilayah pelosok Kabupaten Banyuasin yang mengikuti pelatihan. Ia berharap pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama kegiatan dapat diterapkan secara nyata dalam proses pembelajaran di sekolah masing-masing.

Guru dari Wilayah Pelosok Berharap Ilmu Bisa Diterapkan

Pelatihan ini mendapat respons positif dari para peserta, termasuk guru yang bertugas di wilayah pelosok Kabupaten Banyuasin.

Partini, guru SDN 12 Muara Sugihan, mengaku berharap pelatihan tersebut dapat membantunya meningkatkan kemampuan mengajar Bahasa Inggris di sekolah.

“Saya sungguh berharap banyak pada pelatihan ini. Pasalnya saya ingin menerapkannya di sekolah. Saya sendiri mengajar SD di desa pelosok yang perlu banyak bimbingan dalam bahasa Inggris,” kata Partini.

Harapan serupa disampaikan Aris Fauzi, guru SDN 10 Muara Sugihan. Ia berharap pelatihan tersebut dapat membantu guru membangun kepercayaan diri siswa dalam mempelajari dan melafalkan Bahasa Inggris.

“Setelah ada instruksi dari kementerian bahwa sekolah tingkat dasar perlu adanya peningkatan bahasa Inggris, saya berharap murid tidak lagi takut dalam pelafalan bahasa Inggris. Apa yang saya dapatkan dari pelatihan ini sangat berarti bagi guru. Saya berharap teknik-teknik dari pelatihan ini bisa dikembangkan dan diterapkan di sekolah dasar,” ujarnya.

Melalui program ini, YPAN bersama Pemerintah Kabupaten Banyuasin berharap para guru dan kepala sekolah semakin siap menghadapi penerapan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib. Kesiapan tersebut diharapkan menjadi landasan bagi pembelajaran yang lebih efektif sekaligus memperluas kesempatan siswa untuk mengembangkan kemampuan berbahasa Inggris sejak pendidikan dasar.

Editor: Erk